07 Juni 2008

Ditch your bank for a credit union

You aren't bound to your bank. Learn why credit unions deliver big savings and better service for many consumers.

by Liz Pulliam Weston

If the response to "When banks turn evil" is any indication, a lot of you are really and truly sick of your banks.

You're sick of getting socked with fees, or tripped by hidden penalties, or earning lousy interest rates. You're tired of being treated like a nuisance rather than a customer. And yet you have little hope that the bank down the street is any better.

But who says you have to settle for a bank? Relief could be as close as the nearest credit union.

Because so many people are fuzzy about the differences between banks and credit unions, I'll highlight the three most important distinctions:

  • Credit unions are member-owned. If you have an account at a credit union, you're a part owner in the enterprise. That may not entitle you to use the executive washroom -- your CU probably doesn't even have an executive washroom -- but you're likely to be seen as a person rather than as a "cost center."
  • Credit unions are not-for-profit. This status helps explain why interest rates tend to be significantly better, and fees fewer and smaller, at credit unions than at banks. Any profits credit unions do make are distributed as dividends to their members. Contrast that with banks, which continually invent new fees and policies to boost profits (and to pay those stunning executive salaries).
  • Banks hate -- hate -- credit unions. President Franklin D. Roosevelt signed the Federal Credit Union Act into law in 1934 to "promote thrift and thwart usury," and banks have pretty much been gunning for them ever since.

Because of their not-for-profit, cooperative structures, credit unions are exempted from most state and federal taxes. Banks have convinced themselves this is an unfair advantage and have spent a lot of effort, plus a fortune in lobbying fees, trying to legislate credit unions out of existence or at least limit who can join. (I guess they thought the money was better spent there than on, say, improving their interest rates, reducing their fees or slashing their telephone hold times.)

Are you eligible? Almost certainly

Fortunately for you, banks have failed pretty miserably in their efforts to contain the competition. That's why the Credit Union National Association, the CUs' trade group, can brag that virtually everyone in the U.S. can belong to a credit union, thanks to where they live, where they work or the associations to which they belong.
Average interest rates at credit unions vs. banks
Consumer loansCredit unionsBanks

Credit card

12.15%

15.08%

48-month new car

6.21%

7.59%

48-month used car

6.46%

8.17%

36-month unsecured

11.12%

12.73%

Mortgage loans



HELOC

7.91%

8.34%

One-year ARM

5.75%

6.05%

30-year fixed

6.75%

6.77%

Savings



Regular savings

0.94%

0.73%

Interest checking

0.63%

0.62%

Money market

1.96%

1.24%

One-Year CD

4.74%

4.17%

Source: Datatrac, July 2007

The nation's credit unions count 90 million members, and their trade association estimates members save $8 billion a year thanks to better interest rates and reduced fees. Credit-union-issued credit cards, for example, tend not to have annual fees or to charge punitive interest rates for a single late payment. Most credit unions offer free checking accounts, and penalties for overdrawing those accounts tend to be lower: a $20 or $25 fee is typical, compared with up to $39 a pop charged by banks.

Yet many people discover the benefits of credit unions almost by accident, said Pat Keefe, a spokesman for the credit-union association. They'll join because they can get a decent rate on a car loan, say, and only gradually discover that the checking account has far fewer fees, the credit cards offer better interest rates, and the mortgages aren't bad, either.

But you don't have to wait until you need a loan. Usually, finding a credit union is as easy as visiting your employer's human resources department. If you don't work or want more options, you can use the "CU Matchup" tool at JoinACU.org.

Based on where we live, where my husband works and our various other affiliations, the matchup tool spit out 31 local credit unions that might accept us. Some of them had fairly narrow membership requirements, like America's Christian Credit Union, which requires attendance at certain evangelical churches. Others were pretty darned broad, like Wescom Credit Union, which allows anyone who lives, works, worships or goes to school in Southern California to become a member.

Not perfect -- but not out to get you

Like bank deposits, money in credit unions is insured for at least $100,000 per account. Instead of the Federal Deposit Insurance Corp., which insures bank deposits, the coverage is provided by the National Credit Union Administration, but both agencies are backed by the full faith and credit of the federal government.

And you typically aren't restricted to using your own credit union's ATMs. Most CUs either offer fee-free access to a huge network of ATMs or reimburse your fees if you use other institutions' machines.

Are credit unions perfect? Of course not. No institution run by humans and their computers could possibly claim to satisfy everyone all the time. Occasionally I'll hear of a credit union that's instituted some silly fee, and too many have opted for "bounce protection" instead of real overdraft protection for their accounts. (For why the difference is important, read "Don't be duped by 'bounce protection.'")

But most of the folks I talk to who have abandoned banks for credit unions are thrilled they made the switch. If you're sick of your bank, why don't you follow suit?

Sumber : http://articles.moneycentral.msn.com/Banking/BetterBanking/DitchYourBankForACreditUnion.aspx


UANG DIGITAL, DARI PONSEL DAN KARTU RFID

Pada dasarnya uang digital bukanlah pulsa meski transaksi bisa menggunakan telepon seluler, dan juga bukan kartu kredit meski bisa membayar pas. Secara maya, uang itu bisa digunakan untuk membeli barang, termasuk membeli pulsa dan membeli uang kontan.

Meski bukan yang pertama, uang digital masih fenomenal bagi negeri ini. Sementara itu, di Jepang atau di negara maju lain, atau bahkan negara seperti Filipina dan Afrika Selatan, penggunaan uang digital sudah menjadi hal yang biasa.

Dengan uang digital, orang bisa membayar tarif tol secara otomatis. Orang juga bisa berbelanja tanpa mengeluarkan uang atau kartu kredit. Semua dibayar pas dan tidak perlu takut mendapatkan pengembalian berupa uang receh atau bahkan permen.

Meski demikian, tidak mudah bagi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) untuk merintis penggunaan uang maya ini. Sebab, selain harus melakukan sosialisasi dan membangun sarana pendukungnya, perangkat hukum mengenai hal itu juga tidak kunjung disetujui wakil rakyat.

Di Jepang berkembang karena di sana semuanya memang sudah serba elektronik, sedangkan di negara seperti Afrika Selatan lebih karena alasan keamanan, tidak perlu membawa uang ke mana-mana, kata Kiskenda Suriahardja, Direktur Utama Telkomsel, dalam percakapan dengan wartawan beberapa waktu lalu.

Pihak operator seluler ini sudah melakukan kick-off layanan baru yang mereka sebut T-Cash atau Telkomsel Cash bulan lalu. Dalam rintisan ini Telkomsel bertindak sebagai integrator, sekaligus penyedia layanan yang didukung Bank Indonesia (regulator), bank-bank sebagai penyimpan dana, dan penjual barang maupun jasa yang saat ini sudah bisa melayani adalah Indomaret dan Modern Foto.

Layanan T-Cash ini selanjutnya akan diperluas ke bidang usaha seperti supermarket, pusat perbelanjaan, angkutan umum, vending machine (mesin penjaja), rumah sakit, toko buku, restoran, dan pompa bensin.

Dompet digital

Pada prinsipnya ada dua cara yang kami kembangkan, yaitu dengan menggunakan kartu dan aplikasi melalui telepon seluler, meskipun fokus pengembangan kami sekarang ini adalah aplikasi dengan ponsel, kata Bambang Supriogo, VP Mobile Commerce PT Telkomsel, dalam percakapan dengan Kompas, Rabu (19/12) di Jakarta.

Bambang menilai penggunaan telepon seluler saat ini lebih siap. Dengan aplikasi ini, ponsel bisa berfungsi sebagai penyimpan uang digital (mobile wallet), yaitu dengan mengombinasikan aplikasi layanan pesan singkat (SMS) dan unstructured supplementary service data (USSD), seperti halnya ketika mengecek saldo.

Sistem online ini merupakan evolusi dari layanan mobile banking. Pada layanan m-banking ini, ponsel bisa digunakan untuk melakukan berbagai transaksi perbankan sejak tahun 2000, mulai dari hanya satu bank dan sekarang sudah berkembang menjadi 35 bank.

Adapun sistem offline menggunakan cip radio frequency identification device atau RFID, baik dalam bentuk kartu maupun hanya berbentuk stiker. Stiker bisa ditempelkan pada bagian dalam penutup baterai sehingga ponsel bisa digunakan secara online maupun offline, kata Suryo Hadiyanto, Manager Corporate Communications PT Telkomsel.

Untuk penggunaan kartu, saat ini belum ada terminal pembaca yang memiliki spesifikasi teknis yang mampu memberikan kenyamanan bagi pelanggan, ujar Bambang. Artinya, jika banyak perusahaan mengeluarkan kartu, pengguna dikhawatirkan akan membawa banyak kartu sehingga dompet menjadi lebih tebal.

Selain itu, sekarang ini setiap kartu yang dikeluarkan sebuah perusahaan masing-masing memerlukan perangkat pembaca sendiri-sendiri, sekalipun saat ini pihak BI sedang mengusahakan agar satu perangkat pembaca bisa membaca berbagai kartu.

Kelebihan RFID terutama adalah untuk aplikasi pada jenis transaksi cepat, seperti pembayaran untuk jalan tol yang otomatis, pembayaran parkir, dan layanan cepat saji yang ramai.

Di kawasan Asia saja, seperti Hongkong, sudah digunakan Octopus Card sejak 1997 yang menggunakan teknologi RFID. Semula, layanan ini hanya digunakan untuk membayar pada angkutan massal, kemudian berkembang menjadi alat untuk membeli barang pada mesin penjaja, restoran cepat saji, dan pasar swalayan.

Di Singapura digunakan RFID pasif yang dikenal dengan nama kartu EZ-link. Layanan ini digunakan untuk membayar tarif transportasi bus dan kereta api, sedangkan untuk tol digunakan CashCard (RFID aktif). Malaysia juga melakukan hal yang sama untuk kereta api dan bahkan negeri jiran ini mengaplikasikan RFID untuk paspor warga negaranya.

Demikian pula kota seperti Seoul, Korea Selatan, sudah menggunakan kartu T-money untuk pembayaran transportasi umum sejak 1996. Jepang menggunakan super urban intelligent card (SUICa) untuk pembayaran transportasi kereta api.

RFID meluas

Secara umum, kartu RFID ada tiga jenis, berupa RFID pasif, semipasif, dan aktif. Disebut pasif karena tidak membutuhkan sumber tenaga secara khusus, menjadi aktif ketika pembaca RFID berada dekat dan memberikan tenaga listrik, sedangkan semipasif dan aktif memiliki sumber daya khusus, biasanya berupa baterai kecil.

Untuk penggunaan yang lama, seperti kartu pengenal, kartu absensi, dan pengaman barang lebih disukai jenis pasif. Sekalipun tidak memiliki baterai di dalam, arus listrik akan timbul manakala kartu didekatkan dengan pembaca RFID.

Pembaca RFID mengeluarkan sinyal gelombang radio yang menginduksi antena pada kartu RFID. Arus akibat induksi ini cukup untuk menghidupkan rangkaian terintegrasi (IC) jenis CMOS sehingga memberikan respons berupa pancaran gelombang radio.

Ini berarti antena dirancang baik untuk bisa mengumpulkan energi listrik maupun untuk mentransmisikan gelombang radio. Respons berupa nomor identifikasi yang tersimpan dalam cip umumnya cip yang bisa ditulisi EEPROM untuk menyimpan data.

Kesederhanaan jenis RFID pasif adalah rancangannya sehingga proses pembuatannya bisa melalui proses printing, termasuk bagian antena. Karena tidak ada baterai di dalamnya, bentuknya juga bisa dibuat menjadi sangat kecil sehingga bisa ditanam dalam kertas, stiker, atau bahkan di bawah kulit makhluk hidup (termasuk manusia).

Hitachi, sebuah perusahaan Jepang, pada Februari 2007 memperkenalkan RFID terkecil yang berukuran hanya 0,05 mm x 0,05 mm (tanpa antena). Hitachi u-chip ini mampu mentransmisikan nomor ID unik 128 bit. Prestasi ini merupakan perbaikan RFID pasif sebesar 0,15 mm x 0,15 mm setebal 7,5 mikrometer setahun sebelumnya.

Kelemahan dari semua jenis RFID terutama adalah pada antena yang bentuknya sekitar 80 kali lebih besar dari cipnya sendiri. Padahal, antena (dan pilihan frekuensi) menentukan seberapa jauh RFID bisa memancarkan frekuensi radio, biasanya paling jauh hanya 10 cm, selain ada juga yang bisa sampai beberapa meter.

Sedangkan untuk RFID aktif bisa sampai 500 meter sehingga banyak digunakan untuk pembayaran tol secara otomatis tanpa harus membuka kaca jendela.

Terkait dengan penggunaan frekuensi radio, penerapan RFID juga tidak lepas dari aturan itu. Hanya pada frekuensi rendah (LF) 123-134,2 kHz dan 140-148,5 kHz, maupun frekuensi tinggi (13,56 MHz), RFID bisa digunakan secara bebas tanpa perlu lisensi atau izin. Adapun pada frekuensi ultratinggi (UHF), dari 868 MHz sampai 928 MHz, tidak bisa digunakan secara global karena tidak ada standar tunggal global pada rentang frekuensi itu. (Kompas, 21/12/2007, AW Subarkah)
sUMBER : http://www.indomaret.co.id/idm/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=61